Mengenai Covid-19 dan Kemanusiaan Kita

Menyambut tahun 2020 dalam beberapa bulan lalu, kita mendapat berbagai pemberitaan internasional yang tiada hentinya. Tidak perlu menyebutkan, saya yakin kita sudah muak dengan apa yang terjadi dengan tahun 2020.

Puncaknya pada akhir bulan Februari, dimana pemberitaan tentang apa yang disebut pandemi covid-19 alias virus corona mulai merebak dalam media dan dalam isi kepala kita sendiri. Beberapa ada yang ketakutan soal keselamatannya dan orang terkasihnya, sisanya tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal tersebut.

Sesungguhnya, saya berusaha menahan diri untuk mengungkapkan dan bahkan menuliskan soal pandemi ini. Karena saya melihat bagaimana pandemi ini menunjukkan sisi tergelap manusia dalam usaha menyelamatkan dirinya. Hal yang alamiah kita alami sebagai kategori kingdom animalia tentu saja.

Rasisme dalam Pandemi

Dalam usaha kita sebagai makhluk hidup untuk memerangi pandemi ini. Saya sering melihat Covid-19 ini sebagai virus yang membuat kita menjadi masyarakat yang rasis. Ada dua kategori ras dalam kehidupan masyarakat di pandemi ini, yakni Kelompok Penguasa (Master Race) dan Kelompok Bawahan (Inferior Race) .

Kelompok Penguasa kita dimiliki oleh mereka yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan dirinya dari pandemi ini dari fasilitas yang dimiliki, dan seringnya memiliki privilege untuk menyelamatkan orang lain. Entah untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kepentingan bersama. Namun lepas dari apapun motivasinya, mereka berkemampuan dan seringnya ikut memberikan kontribusi material untuk membantu memerangi wabah.

Kelompok Bawahan kita terbagi menjadi dua yakni Kelompok Penguasa Palsu (Master Race Imitation) dan Kelompok Rentan (Vulnerable Race). Adapun kategori yang pertama adalah mereka yang melakukan apapun untuk serupa dengan Kelompok Penguasa untuk menyelamatkan diri namun seringnya kehilangan beberapa rasa humanis yang mereka miliki.

Sedang, kategori kedua adalah mereka yang menjadi korban dari pandemi ini, mereka yang tertuduh sebagai ancaman bagi jenis kelompok lainnya. Mereka adalah beberapa orang yang dicurigai terpapar virus ini, ataupun mereka yang tidak punya kuasa selain menjalani hidup, tanpa berpikir berbelit soal pandemi ini. Layaknya sebagai ancaman, mereka dihindari, dikucilkan, meski seringnya yang berpengaruh besar secara spiritual untuk berakhirnya pandemi ini.

Humanis dalam Pandemi

Bukan tanpa alasan saya mengkategorikan beberapa kelompok ras dalam pandemi ini. Saya menemukan konsep rasisme yang berbeda dalam masyarakat menyikapi pandemi. Banyak ditemukan serangan kepada Kelompok Rentan, yang dianggap sebagai lawan. Hal ini bisa disebabkan sifat alamiah manusia untuk melihat hal yang tidak dimengerti sebagai sebuah ancaman bagi kelompoknya.

Hal sederhana saja, di kota tempat saya tinggal baru saja saya menemukan tenaga medis yang ditolak untuk tinggal di rumah sewa karena pekerjaannya. Belum lagi pekerja migran yang ditolak pulang karena dikabarkan terpapar hanya karena mengunjungi rumah sakit setelah melakukan karantina diri. Dan berbagai hal sederhana yang saya yakin bisa ditemukan di daerah masing-masing.

Sebagaimana gerakan antisemitisme pada masa perang dunia kedua. Kita dapat melihat gerakan serupa yang ditujukan pada Kelompok Rentan. Meskipun kelompok ini menjadi scapegoat dalam pandemi ini. Kelompok ini seringnya memiliki kesadaran tinggi untuk berkontribusi secara spiritual untuk mengakhiri pandemi ini. Dalam membantu masyarakat kelompok lain, ataupun sebagai tugas dan pekerjaannya.

Dalam sentimen kepada kelompok rentan ini, seringnya dilajukan oleh Kelompok Penguasa Palsu. Sebagaimana berbahaya-nya kelompok masyarakat yang tergila gila pada ras unggul pada masa perang dunia kedua. Masyarakat kelompok penguasa palsu ini mengutamakan keselamatan dirinya, meskipun harus mengorbankan kelompok ataupun masyarakat lain. Dan menjadi garda terdepan dalam penyerangan pada kelompok rentan.

Dalam insting untuk menyelamatkan dirinya, manusia sering melupakan rasa humanis yang membedakan dirinya dan yang membuat kita dapat bertahan sampai sekarang. Sepertinya kita tidak cukup belajar pada pengalaman era sebelum kita. Jangan sampai, karena kepentingan masing masing kita sering melupakan hal yang perlu kita lawan adalah pandemi ini, bukan kelompok manapun.

Yuval Noah Harari menyebutkan pada bukunya yang berjudul Sapiens, bahwa ‘.. yang membuat sapiens kuat dan efektif menguasi bumi dibanding saudaranya neanderthal atau homo erectus adalah ikatan kebersamaan’. Kita perlu kembali ke karakteristik utama kita sebagai kelompok manusia yang memenangkan peradaban. Seringkali kita lupa, bahwa kita sedang bersama sama mencatat sejarah untuk generasi ke depan, bagaimana kita bersama sama menghadapi pandemi ini. Jangan sampai pandemi ini berubah menjadi perang masyarakat sipil tanpa kita sadari.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store