Kartini dan Jejak yang Melampaui Masa

Image for post
Image for post
Kartini dan Kardinah. Sumber

Membicarakan kembali Kartini dan persepsi kontradiksinya. Seorang wanita bangsawan yang menolak dengan keras serta menerima adat di saat bersamaan. Pada masanya, ia dikenal dengan penyerapan hingga mempublikasikan konsep dan ide pemikiran barat. Kini pun, sosoknya seringkali dihubungkan dengan budaya kolonialisme yang dibalut dengan kepentingan nasionalisme.

Kontroversi Kartini dalam norma dan adat istiadat Indonesia pada masanya menimbulkan berbagai pertanyaan. Seperti dua mata pedang adat yang diterapkan pada masa itu dan sekarangpun memberikan dampak. Keterikatan Kartini pada adat khususnya dalam lingkungan kerajaan jawa menjadikannya representasi yang dipilih pemerintah pda masanya untuk menjadi representasi perjuangan perlawanan norma yang secara bersamaan tidak meninggalkan esensi adat tersebut.

Kebebasan dalam Adat Jawa

Perjuangan Kartini dalam melampaui adat dimulai dari itikad membaca dan menulis. Tentu, berbagai tulisan melalui surat menyuratnya yang pada akhirnya dipublikasikan. Salah satu yang menarik dan menggambarkan bagaimana adat jawa ditemukan dalam suratnya kepada Zeehandelaar,

“Aduh, tuan tiadalah tahu betapa sedihnya, jatuh kasih akan zaman muda, zaman baru, zamanmu, kasih dengan segenap hati jiwa, sedangkan tangan dan kaki terikat, terbelenggu pada adat istiadat dan kebiasaan negeri sendiri” (Surat Kartini kepada Zeehandelaar)

Belenggu adat istiadat sebagai bangsawan jawa terus menjadi kegelisahan dari Kartini. Menjadi kontradiksi, ketika pada surat ini dikirm, Kartini sedang menjalani pingitan sebagai bagian dari adat jawa. Kenyataanya, pada masa ini bukanlah sebuah hal yang mungkin untuk terlepas dari belenggu seperti ini. Itikad perjuangan Kartini akhirnya terbatas pada bacaan dan berbagai tulisan melalui surat menyuratnya yang pada akhirnya akan dipublikasikan.

Satu-satunya kebebasan yang dimiliki adalah alam pikirnya. Sebagaimana diketahui, pikirannya ia sampaikan sebagai pendidik yang memberikan akses belajar bukan hanya bagi wanita namun masyarakat bumiputera pada masa itu. Berawal dari kegelisahan yang ia alami dan berbagai gadis-gadis jawa yang tidak diperbolehkan memiliki cita-cita selain menikahi pria yang telah dipilih oleh orangtua yang ia tuliskan pada Abendanon,

“Karena itulah saya sangat gembira akan maksud mulia untuk menyediakan pendidikan dan pengajaran bagi gadis-gadis bumiputera. Sudah sejak lama sayamaklum, bahwa itulah yang dapat mengubah kehidupan kami perempuan bumiputerayang sedih ini. Pengajaran bagi gadis-gadis itu bukan kepada perempuan saja akan mendatangkan rahmat, melainkan juga kepada seluruh masyarakat bumiputera” (Surat Kartini pada Abendanon)

Pendidikan yang dipilihnya sebagai perlawanan kepada adat. Sosoknya sebagai bangsawan tidak menghalangi untuk terjung langsung dan berbagi untuk kemajuan bangsa. Ia menyadari bahwa dengan pendidikan perempuan akan bangkit berjuang mematahkan belenggu peradaban yang diwujudkan melalui sekolah yang ia didirikan untuk wanita sepanjang hidupnya. Pramoedya Ananta Toer menggambarka sosok Kartini dalam buku Panggil Aku Kartini saja menyebutkan bahwa apa yang sudah dibaca Kartini digenggamnya terus di dalam tangannya, dan ikut memperkuat moralnya.

Habis Cahaya Terbitlah Terang

Kehadiran Kartini memberi cahaya menyoal pendidikan, kesetaraan, dan adat. Hingga akhirnya, perjuangannya berhenti sesaat dalam pusaran adat pada sepeninggalnya tahun 1904. Perjuangannya kemudian dilanjutkan dengan diterbitkannya judul Door duisternis tot licht atau yang dikenal Habis Gelap Terbitlah Terang. Hingga hasilnya akan digunakan untuk mendirikan yayasan pendidikan sampai setidaknya 7 sekolah wanita yang setara dengan sistem pendidikan belanda.

Dalam kebebasan alam pikir Kartini telah membentuk tonggak dalam pendidikan hingga terlahirnya pahlawan wanita pada masanya hingga kini. William H. Frederick dalam Pemahaman Sejarah Indonesia menyebutkan bahwa kekuatan Kartini terwujud sebagai kerendahan hatinya sehingga beliau menegaskan bahwa ia manusia biasa.

Pada kontradiksi dan spekulasi mengenai perlawanan Kartini. Ia memberikan cahaya yang menerangi langkah dalam proses perjuangan selanjutnya. Ia memberikan gagasan yang terus dapat diterapkan hingga masa kini. Perlawanannya dalam belenggu adat tidak mematikan jejak yang ia tinggalkan. Sebuah jejak yang melampaui masa nya.

“Aku tiada hendak melihat, tetapi mataku tinggal terbeliak juga, dan pada kakiku ternganga jurang yang dalam sedalam-dalamnya, tetapi bila aku menengadah, melengkunglah langit yang hijau terang cuaca di atasku dan sinar matahari keemasan bercumbu-cumbuan, bersenda gurau dengan awan putih bagai kapas itu; maka dalam hatiku terbitlah cahaya terang kembali!” (Surat Kartini kepada Zeehandelaar)

Tulisan akan dilanjutkan dengan Kartini, Kesetaraan dan Ketimpangan

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store