Hypatia: Simbol Transisi dalam Sains (2)

Image for post
Image for post
Ilustrasi Hypatia, Sumber

Reserve your right to think, for even to think wrongly is better than not to think at all.” -Hypatia

Menyoal kembali soal Hypatia, disebutkan oleh Naomi Alderman pada BBC Discovery bahwa Hypatia sebagai simbol dari transisi khususnya wanita pada sains dan ilmu pengetahuan. Pada masa pencerahan dimana sains mulai diterima sebagai pengetahuan hingga kini, memori mengenai Hypatia ialah sebagai martir dari konflik kepentingan antar kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana seorang martir, memori tentangnya adalah bagaimana kematiannya daripada apa yang telah ia ciptakan selama hidup. [1]

Bagaimana sosoknya direpresentasikan sebagai martir juga tergambar dari sebuah novel Charles Kingsley yang berjudul Hypatia, or New Foes with an Old Face yang berfokus kepada kematiannya sebagai wanita yang anggun pada masanya dan tidak berfokus pada capaiannya di bidang ilmu pengetahuan.

Berbeda dengan itu, Damascius yang dikenal sebagai ‘neoplatonis terakhir’ menjabarkan Hypatia sebagai ‘seorang guru yang berbakat yang menguasai filosofi dengan menerapkan dan mengajarkan kebajikan moral yang adil dan bijaksana yang membuat seluruh kota menghormatinya dan mempercayainya’ [2]

Lepas dari pandangan Kingsley ataupun Damascius soal Hypatia, kisah dari mereka adalah bentuk sosoknya sebagai simbol transisi dalam dunia modern. Hal ini menyangkut perannya di dalam dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, kematiannya memang menjadi simbol bagaimana kepercayaan sering berada di sisi yang salah pada sejarah yang akhirnya menghilangkan signifikansi selama ia hidup.

Memang tidak banyak karya nya yang dapat terselamatkan namun ilmu yang ia berikan menjadikan sebuah pondasi untuk berbagai penemuan pada ilmu pengetahuan utamanya bidang astronomi. Keteguhannya dalam berprinsip untuk terus berfikir menjadikannya sebuah pijakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan masa kini. Dan jelas membicarakan kembali apa yang telah ia sumbangkan pada ilmu pengetahuan akan jauh lebih pantas untuk menjadikan Hypatia dari Aleksandria sebagai simbol transisi di sains sekaligus untuk masyarakat pada era millenium.

Referensi:

[1] https://www.bbc.co.uk/programmes/w3csxh9h

[2] Hypatia: The Life and Legend of an Ancient Philosopher, Edward J Wats, 2017

Image for post
Image for post
Kutipan dialog pada film Agora, Sumber

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store