Film Tilik dan Candu Kita

Image for post
Image for post
Poster Film Tilik; Sumber

Salah satu yang saya temukan dari kelabu tahun 2020 ialah bagaimana kita bisa menemukan detail kecil yang luput dari kehidupan kita. Blessing in disguise, I guess? Salah satunya adalah kita menemukan media baru yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Kemunculan film Tilik merupakan blessing in disguise yang saya temui. Bagaimana bisa film secerdas ini luput dari tontonan kita?

Namun tontonan seperti ini rupanya tidak disukai oleh semua publik. Memang sebuah kewajaran apabila karya seni dikritik dan disanjung bak pedang bermata dua. Sekalipun begitu, beberapa memandang film ini dengan tolak ukur yang salah. Dan akhirnya, justru menggambarkan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Mereka melupakan fakta bahwa film sebagaimana media lainnya merupakan sebuah karya seni. Sebagaimana karya seni lainnya merupakan penciptaan gambaran yang ada dalam seniman. Tidak ada yang benar ataupun salah.

Tilik adalah Cerminan Kita

Bagian menarik dari penyajian film Tilik adalah kita bisa melihat bagian dari diri kita ke pada pemain. Dalam beberapa masa dan circle kita bisa berwujud menjadi karakter Bu Tejo. Kemudian dalam beberapa waktu dan keadaan tertentu kita bisa berperan menjadi Yu Sam. Seringnya kita merasa muak dan ingin segera berakhir, sehingga berperan menjadi Yu Nah. Saya pikir, perwujudan karakter seperti ini cukup cerdas, karena penonton bisa menertawakan karater yang tak lain adalah dirinya sendiri.

Mengambil ide yang sederhana dan dekat pada sebagian besar kehidupan masyarakat bukan geografis tertentu saja. Salah satu yang dapat diambil, adalah terdapat gambaran kehidupan lain yang tidak terekspose dengan kepentingan ibukota. Terdapat protes soal setting yang disajikan pada sebuah truk. Hal ini tidak berdasar, karena pada beberapa tahun yang lalu pun masih saya temukan perjalanan serupa di beberapa daerah. Namun, lagi-lagi kehidupan sosial semacam ini tidak tersorot di sisi lain Indonesia. Namun bagi saya dan kebanyakan orang karakter dan plot dalam film ini terasa dekat dan relatable.

Tilik adalah Kita. Film Tilik merupakan cerminan dari kita sebagai personal dan kebudayaan kita untuk memiliki hak atas kehidupan orang lain. Dalam film Tilik, saya bisa menemukan potongan bagaimana karakter dibentuk dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah bagaimana kita menganalisis semua unsur dari film ini. Hal ini tak ubahnya, kita menggunakan sudut pandang politik di isu antropologi. Mungkin bisa bersinggungan namun tidak berhubungan. Lagi-lagi, terdapat ratusan hingga ribuan gambaran akan cerminan Indonesia yang seringkali luput. Budaya dan kebiasaan kita untuk menjenguk orang secara berombongan, bahkan kebiasaan kita untuk ikut campur dan merasa berhak dari kehidupan orang lain. Tilik adalah cerminan diri kita.

Tilik adalah Karya Seni

Kita semua tahu bahwa orang Indonesia memiliki kecerdasan untuk melakukan kritik pada setiap aspek. Sebagaimana yang digambarkan oleh film Tilik, sepertinya. Namun, mereka melupakan bahwa tilik tak lain dan tak bukan adalah sebuah film dan sebuah karya seni. Dimana seharusnya, kita pandang melalui kacamata seni. Bagaimana bisa satu film dengan durasi kurang dari satu jam harus memuat semua nilai dan pesan yang mungkin film layar lebar pun tidak akan mampu melakukannya.

“Film memiliki nilai seni tersendiri, karena film tercipta sebagai sebuah karya dari tenaga-tenaga kreatif yang profesional di bidangnya. Film sebagai benda seni sebaiknya dinilai dengan secara artistik bukan rasional”[1]

Seharusnya kita dapat menilai film Tilik ini sebagai sebuah bentuk karya seni yang menggambarkan potongan dari kehidupan masyarakat. Bukan dengan pemikiran rasional dan dengan pendekatan yang salah. Saya tidak membenci pendekatan barat, saya bahkan menghidupi pendekatan tersebut. Namun memasukkan pendekatan ilmu yang berasal dari barat kepada film Tilik ini salah. Bagi sebagian masyarakat Indonesia saja tidak dapat menemukan kesinambungan film ini pada diri dan kesehariannya. Bagaimana mungkin kita memasukkan pendekatan yang jauh berbeda?

Saya berbicara dari sudut pandang penonton yang awam dengan dunia di balik layar. Namun, saya jelas melihat pengambilan gambar dan cara bercerita dari film ini membuat saya terbawa dalam situasi yang digambarkan oleh film ini. Kita sebagai penonton ikut dibawa masuk dan ikut menertawakan diri saya sendiri dalam sajian film itu. Itulah mengapa, bagi saya film ini cukup cerdas. Kebencian kita akan gambaran budaya ‘ghibah’ dalam film ini menurut saya tidak masuk akal. Karena dalam masyarakat digital saja, berapa korban ghibah yang kita lakukan dalam kolom komentar. Apalagi dalam kehidupan nyata?

Menciptakan kebencian dan wacana tertentu pada film Tilik ini tak lain menyerang diri kita sendiri. Kebudayaan dalam kehidupan sosial memang begitu adanya, membenci film ini berarti membenci diri kita sendiri. Apakah nilai tersebut benar untuk dilakukan? tentu saja tidak. Namun, apakah penggambaran film Tilik ini sesuai dengan yang terjadi? tentu saja benar.

Sebuah karya seni tidak akan lepas dari kritik yang akan dijadikan pondasi untuk karya seniman selanjutnya. Namun, alangkah baiknya kita sebagai penikmat untuk menggunakan sudut pandang yang tepat. Dan menilai sebuah film sebagai karya seni dengan fungsi dan tujuan masing masing. Bagi saya, film ini pembelajaran kita akan cerminan masyarakat masa kini. Tilik adalah gambaran candu kita akan kehidupan orang lain.

After all, we’re all part of the problem in society.

[1] Yoyon Mudjiono, “Kajian Semiotika Dalam Film”. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 1, №1, April 2011, hal. 126

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store