Day 7 : Favorite Movies in Life

Film favorit. Topik ini mungkin bisa jadi menjadi hal yang tidak begitu sulit untuk saya tuliskan. Karena saya sangat sering menonton film, bisa jadi seminggu sekali setidaknya saya menyempatkan diri menonton, meskipun hanya berbatas netflix dan disney plus untuk saat ini. But, yeah I’m a movie freak indeed.

Tapi untuk menyebutkan film favorit saya akan sedikit bias. Dikarenakan film sendiri memiliki keterikatan personal dari penontonnya untuk menyebutkan menjadi film favorit. Jadi, perlu dicatat bahwa film yang saya sebutkan ini tidak lepas dari pengalaman personal saya yang membuat film itu bermakna, dan untuk kualitas atau sinematografi dapat kita bicarakan di lain waktu. Here we go.

Begin Again (2014)

Sebuah film musikal yang diperankan oleh Keira Knightley dan Mark Rufallo. Untuk segi plot yang diambil sebenarnya tidak ada yang spesial. Sebuah tipikal film yang menjual mimpi hollywood. Dari segi pemeran jelas, akting dari Rufallo sebagai karakter yang kehilangan segalanya dalam hidup benar benar dalam porsi yang pas. Kita bisa merasakan kemarahan dan frustasi yang sama yang bisa dirasakan.

“Here comes the train upon the track and there goes the pain it cuts to black Are you ready for the last act? To take a step you can’t take back” -A Step You Can’t Take Back (Keira Knightley)

Lalu apa yang membuat film ini spesial? Dari segi sub judul ‘can a song save your life?’ sendiri sudah menarik saya dan yakin bahwa ini akan menjadi film favorit saya. Beberapa lagu yang dimainkan dengan instrumen yang sangat pas. Membuat kita mendalami perasaan dan kekacauan dari kehidupan yang digambarkan dalam film ini. Hal ini menyebabkan film ini menjadi my go to movie, ketika merasa hidup saya butuh sedikit irama.

“God, tell us the reason youth is wasted on the young It’s hunting season and the lambs are on the run searching for meaning but are we all lost stars, trying to light up the dark” -Lost Star (Adam Levine)

Saya selalu menyukai film yang bisa memberikan saya pembelajaran dan tentu saja proses healing dalam menghidupi trauma kehidupan. Life isn’t that bad. Begitulah yang saya dapatkan dari film ini. Saya masih kecewa dengan pilihan ending yang terasa terasa terburu-buru dan terasa mengecilkan pengembangan dari karakternya. Namun, saya pikir dengan pilihan lagu dan instrumen nya dan tentu saja akting dari Mark Ruffallo yang membuat saya dapat mentolerir beberapa kesalahan dalam film ini. Proses healing ini juga saya rasakan di film Please Stand By, yang dapat dibaca disini. Lepas dari semuanya, film ini cukup layak disebut feel good movie. Namun jika kamu mau menganalisa aspek dunia film, saya pikir ini bukan film yang tepat.

Life of Pi (2012)

Tidak jauh berbeda dengan pilihan film saya sebelumnya. Life of Pi merupakan film yang mencakup proses healing dan pemahaman tentang kehidupan itu sendiri. Saya sendiri tidak membaca versi buku Life of Pi, namun dari sudut pandang film saja sudah mencakup nilai dan sinematografi yang sangat memuaskan pada masanya.

“It’s important in life to conclude things properly. Only then can you let go. Otherwise you are left with words you should have said but never did, and your heart is heavy with remorse.” -Life of Pi

Saya selalu suka ketika film membebaskan penontonnya untuk memilih ending atau jenis cerita apa yang kita pilih. Saya tidak akan menjabarkan detailnya, namun pada film ini kita dilibatkan dan dibebaskan untuk memilih ending apa yang cocok buat kita. Meski tidak se ekstrim pilihan pada Black Mirror Bandersnatch. Tapi pemahaman yang didapatkan tentang kehidupan dan sikap kita untuk memandang kehidupan saya pelajari disini.

“ I suppose in the end, the whole of life becomes an act of letting go, but what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye.” -Life of Pi

Ketika saya mendapatkan kabar bahwa Irrfan Khan yang berperan dalam film ini. Saya merasa cukup terpukul dan sedih dengan kepergiannya. Karena tidak lepas dari rasa personal tentang kehidupan yang diberikan oleh film ini. Beberapa pesan dan kutipan tentang film ini masih memenuhi galeri saya.

Dalam film ini, saya belajar bahwa kehidupan sendiri adalah pilihan bagaimana kita memandang kehidupan itu sendiri. Hidup sendiri adalah cara bagaimana kita bertahan di tengah badai yang terus ada. Poin utama dari film Life of Pi ini sendiri adalah bagaimana cara manusia terus bertahan hidup itu sendiri. There’s no right or wrong. Saya suka penyampaian pesan mengenai pesan bahwa act of letting go sebagai proses dari kehidupan itu sendiri. Dalam film ini juga digambarkan keterikatan penulis dengan aspek ketuhanan dengan sangat tidak berlebihan. I’m no religious person, obviously. Dan saya nyaman dengan penyampaian nya dengan porsi yang pas. And again, life is process of letting go.

Dalam beberapa film yang sebutkan tersebut jelas bukan film yang baru ya. Yup, saya bukan pengikut film masa kini. Atau mungkin saya cukup pelupa untuk mengingat film apa saja yang sudah saya tonton. Sebenarnya ada beberapa film lagi yang ingin saya sebutkan seperti 3 Idiots (2009), Dokumenter Among the Believers (2017), La La Land (2016), ataupun Marriage Story (2019) . Atau mungkin menyoal film Tilik (2018) yang menjadi pro dan kontra warganet Indonesia. But, for the sake of words count, I’m gonna put it on another article hopefully.

Saya pikir, selalu menyenangkan bagaimana sebuah karya seni bisa berdampak dalam kehidupan kita. Bagaimana pemahaman kita menyoal kehidupan bahkan tentang traumatis personal dapat kita pahami dengan emosi yang diciptakan oleh karya seni. Tidak perlu untuk memahami dengan berbagai sudut pandang untuk berdebat mengenai sebuah film. Just enjoy the show, I guess. Cheers!

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store