Day 6 : Happiness in Relationship, really?

Saya sering bertanya-tanya, dengan stigma masyarakat yang tidak terima statusnya sebagai single a.k.a jomblo. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa menjadi jompo lebih melelahkan daripada menjadi jomblo. Saya pun heran, dengan beberapa orang yang hanya memberikan fokus kehidupan pada kisah cintanya. Bisa jadi hal ini karena saya tak lebih sebagai seorang pesimist, tapi ada berbagai hal dalam kehidupan. Tapi mengapa persoalan cinta menjadi hampir satu satunya topik yang kita perbincangkan?

To be honest, I’ve been and am in relationship and it doesn’t really change drastically your whole life. Sebuah miskonsepsi ketika kehadiran orang lain dalam hidupmu akan menjadikan hidupmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Will it make you happier? possibly. But before you’ll be happier, you need to be happy first with yourself. Kebahagiaan dan hidup yang bisa menentukan hanya dirimu sendiri.

Love is not the answer of happiness

Sejujurnya, berada dalam sebuah hubungan seringkali memunculkan permasalahan yang kadang lebih pelik. Bagaimana tidak? kita bertanggung jawab pada kebutuhan emosional dari orang lain dengan tuntutan dan pengalaman yang pasti berbeda dengan kita. Namun, apakah kebahagiaannya setara dengan permasalahan yang kamu hadapi, itu yang menjadi pondasi mempertahankan sebuah hubungan.

I am so sick of love song. Of course, being in love and relationship is good, maybe. Tapi memilih menjalani hubungan semata-mata karena hal sepele seperti ‘tidak mau dianggap ga laku’. Atau menjadi sangat membenci kehidupan semata mata karena tidak mempunyai pasangan. Bahkan lebih parahnya, bertahan dengan pasangan yang sangat toxic, semata-mata karena ketakutan tidak mendapatkan pasangan lagi. Oh girl and boy you run the world. Don’t be stupid.

Esensi dari sebuah hubungan adalah menjadikan kita pribadi lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana kehadiran seseorang tersebut dapat memunculkan karakter positifmu daripada negatifmu. Jika tidak, apa gunanya kita menjalin hubungan? Jelas dengan kehadiran seseorang dalam kehidupan mu untuk berdiskusi ataupun berkeluh kesah dapat membantumu. Namun mempercayai atau bahkan menuntut orang lain untuk menyelesaikan permasalahan dalam hidupmu atau menciptakan kebahagianmu adalah hal mustahil. Be your own happiness, and don’t expect someone else be the one for you.

What’s wrong with being single?

Single and Happy. Saya kira menjadi single dimana kita tidak memiliki beban emosional dari orang lain adalah waktu untuk menemukan kebahagiaan dan dirimu. Fuck it, you don’t even have to be happy all the time. Just find your way of understanding life and happiness. It’s a looong process, but it’s all worth it. Seringkali orang-orang mengeluhkan absennya kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Sehingga, ia melupakan keluarganya, dan teman atau sahabatnya dalam kehidupan ia sendiri. Just live and own your life.

Lagipula apa yang salah dengan menjadi single? Kita tidak harus memiliki pasangan all the time. Memang nilai yang ada dalam masyarakat bahwa kebahagian dapat diperoleh dengan kehadiran orang lain adalah salah kaprah. Saya pribadi menyalahkan Disney dan berbagai platform film lain nya yang selalu menawarkan happily ever after. Karena pada kehidupan nyata, hal tersebut tidak semudah datang nya prince charming, dan boom you’re a princess.

Awal mula pembicaraan soal kisah cinta, saya kira tidak lepas dari mulut netizen di luar sana. Kita dituntut untuk memiliki pasangan yang melengkapi kehidupan kita. Namun saya kira, terlalu besar tuntutan untuk seseorang dianggap sebagai pelengkap. Kenapa tidak kita membangun bangunan baru, daripada melengkapi bangunan yang seharusnya kita sendiri yang melengkapi?

Permasalahan menjadi single adalah aib adalah asumsi kita tidak akan bahagia, tanpa kehadiran orang lain dalam kehidupan kita. Namun, di masa digital dimana informasi dapat diperoleh mengapa kita harus sibuk memikirkan pendapat orang lain? Please, live your own life

All will come in time. Adalah hal yang normal ketika kita khawatir dengan kehidupan kita. Manusia dengan perancangan nya tentang kehidupan pribadi atau mungkin publik adalah hal wajar. Namun, yang salah adalah ketika fokus hidup kita hanyalah menyoal hal tersebut. Ketahuilah segala sesuatu akan bertemu dan berpisah pada waktunya. Your love, your sadness. All will come in time. Don’t wait for it, just live your life fullest.

Pada dasarnya, apa yang saya tulis ini sudah ada di kepala kita semua bukan? tapi mungkin ketika dunia terasa tidak bersahabat, kadangkala kita meninggalkan sejenak logika kita dan bertumpu pada perasaan kita. Tapi percayalah, bahkan badai akan berlau pada masa yang tepat. Saya pikir inti dari tulisan dari hari pertama hingga sekarang adalah menemukan kebahagiaan itu sendiri ya.

Well, kehidupan bukanlah hitam dan putih, terdapat ratusan spektrum warna yang bisa kita temukan. Tidak perlu mencemaskan satu hal, ketika ada ratusan hal lain yang bisa kita temukan. Saya ingin menutup tulisan ini dengan salah satu lagu yang mungkin sesuai dengan tema ini. Sebagaimana lirik-nya, you never really love someone until, you learn to forgive.

Be happy and again live your own life. Adios.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store