Day 28 : When You Love Someone

Kembali menuliskan mengenai cinta, kasih sayang dan welas asih adalah sebuah tantangan menyebalkan bagi saya. Sebagai pribadi yang sekeras batu, membicarakan hal yang personal seperti ini bukan lah hal yang mudah. Bagaimanapun juga, saya tidak ingin menyerah kepada emosi yang saya miliki dan mencoba merangkainya.

Saya tidak punya bayangan soal cinta sebagai hal yang agung. Mungkin karena pembicaraan mengenai hal tersebut tidak dibudayakan di keluarga saya, atau karakter saya saja mungkin cenderung malu membicarakan itu. Namun, saya tahu cinta adalah hal yang indah meskipun penuh dengan luka. Saya melihat cinta yang diberikan orangtua kepada anaknya, kekasih kepada pasangannya, hingga cinta kepada orang yang tak layak dicinta. Satu yang saya petik, mencintai adalah sekelompok pekerjaan yang dijadikan satu ketulusan.

Love in spite of

Saya sering mendengar ucapan ‘I love you not because of, but in spite of’ dalam berbagai bacaan ataupun tayangan. Saya pikir ada benarnya, mencintai bukanlah perkara segala kebaikan yang kita dapatkan namun di balik setiap luka yang kita dapatkan. Dalam hubungan saya yang jauh dari kata dewasa, saya terus berusaha meskipun seringnya gagal untuk menerapkan prinsip tersebut. Satu prinsip dasar cinta adalah hilangnya tuntutan dan menerima segala perbedaan.

Pada akhirnya mencintai seseorang kita akan menerima segala perbedaan yang mungkin menjengkelkan dan menyakitkan. Namun satu hal yang pasti, jangan menyiksa dirimu atas nama cinta. Bagi saya, mencintai seseorang adalah kesadaran penuh bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubah seseorang. Satu yang dapat kita lakukan adalah menerima segala kekurangan tersebut. Namun satu hal lain, jika kita benar mencintai seseorang kita akan menjadikan diri kita pribadi yang saling membahagiakan satu sama lain. So. if your tears much more than your smile, it’s not a good match.

Cinta tidak lebihnya sebagai sebuah jembatan gantung yang perlu pondasi kuat dari kedua sisi. Apabila, hanya salah satu pondasi saja yang berusaha menahan tali ikatan dalam jembatan itu. Then, it’s not a love for the first place. After all, love is understanding, listening, and compromise for each other.

Love is within you

Put the mask on yourself before put it on anyone else, so it said. Kita tidak seharusnya mencintai orang lain tanpa mencintai diri kita sendiri. Dalam hubungan atau kisah mencintai entah kepada keluarga, pasangan atau orang lain sudah seharusnya diri kita sendiri yang paling pertama kita cintai. Sebagai people pleaser. saya seringkali mengikuti kehendak orang lain daripada diri saya sendiri. Kebiasaan ini terus saya ubah dengan kesadaran penuh bahwa saya adalah tokoh utama dalam kisah yang saya tulis.

Sebelumnya, saya menekankan soal mencintai yang penuh penerimaan dan tanpa syarat. Lebih diatas itu, kita seharusnya mencintai sepenuhnya tanpa menyakiti diri kita sendiri. Mungkin sebagian dari diri kita memiliki toleransi yang sangat besar akan rasa sakit. Namun, coba diam dan dengarkan setiap bahasa dan sandi yang diberikan oleh tubuhmu rohani dan jasmani. Dengarkan bahwa tidak ada seseorang pun yang sepadan dengan kebahagiaan dan rasa cinta kepada diri kita sendiri.

Love is not all around you, it is within you. Kita dapat mencari dan menemukan makna cinta pada sebuah benda atau seseorang. Namun, kita sering terlupa bahwa makna dari cinta berasal dari diri kita sendiri. Seringkali kita disibukkan mencari kebahagiaan melalui kehadiran seseorang atau sebuah benda dalam hidup kita. Namun, jika kita melihat lebih dalam tidak ada cinta yang lebih besar dan penuh air mata dibanding cinta yang diberikan kepada diri kita sendiri. Sedikit klise memang namun tidak ada yang bisa menutup lubang dalam kehidupan kita selain diri kita sendiri.

Saya sedikit kurang percaya dengan cinta dan segala keindahannya, namun saya sadar bahwa cinta tak ubahnya sebuah bahasa keindahan. Karena mencintai seseorang adalah sebuah pekerjaan yang berat namun juga indah. Kita akan menjadi versi terbaik dari diri kita apabila kita sungguh mencinta sembari menerima segala kekurangan dari orang lain. Dan diatas segalanya itu, menjadikan dirimu prioritas dan mencintai dirimu sendiri adalah sebuah hukum terutama dari cinta itu sendiri. Don’t lose yourself and keep spread love.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store