Day 24 : Lesson of Letting It Go

Melepaskan, merelakan dan mengampuni diri adalah hal terberat yang harus saya lakukan dalam hidup saya. Beberapa minggu ke belakang, saya menyadari pembelajaran mengenai kekuatan ketiga hal tersebut bisa menuntun ke jalan kebahagiaan. Hal ini bermula dari salah satu momen berat dalam hidup saya baru baru ini. Butuh waktu lama untuk membiarkan peristiwa itu terjadi dan merelakan semua perubahan yang harus saya tempuh untuk akhirnya menjadi pelajaran hebat yang saya dapatkan.

Compassion menjadi satu kata kunci sekaligus menjadi favorit saya dan terus saya terapkan dalam perjalanan hidup. Saya menerapkan compassion untuk memahami perlakuan orang lain hingga dunia kepada saya. Sebenarnya, saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa indonesia. Bagi saya compassion bukan hanya bermakna untuk orang lain, namun bagaimana saya bisa mengampuni setiap kesalahan setiap pilihan saya. Bagi saya, pelajaran ini paling bermakna dan masih berat saya lakukan.

Let it come and then let it go

Saya mempelajari bahwa setiap kehadiran orang lain dan segala battle dalam perjalanan kita adalah untuk kita relakan. Terkadang, kita sebagai manusia ketakutan untuk memulai sesuatu karena takut akan kepergian. Namun momen berserah dan membiarkan segala hal datang dan pergi pada momen yang tepat akan menciptakan kekuatan besar dalam hidup kita. Saya sendiri tengah belajar mempraktikkan pelajaran itu setiap harinya. Dan akhir-akhir ini saya diberikan ujian untuk benar benar mempraktikkannya.

Let it come. Dalam setiap battle yang kita tempuh sudah seharusnya kita membiarkan ia datang, menikmatinya mungkin menangisinya hingga akhirnya merelakan ia pergi. Memang, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh proses menahun untuk mempraktikkannya bagi saya. Namun ketika akhirnya saya bisa merelakan, pada tiap dropoint pada perjalanan hidup saya terasa lebih mudah dijalani.

Let it go. Coldplay pada lagunya menyebutkan ‘the hardest part was letting go, not taking part’. Yap, memang merelakan adalah proses yang sangat berat. Terkadang, kita terlalu menikmati perjalanan hingga melupakan destinasi selanjutnya. Inti dari sebuah perjalanan adalah sebuah destinasi yang masing-masing kita tuju. Ketika terasa sulit untuk merelakan, cukup ingat tujuan awal kita sebagai manusia dan dari sana lepaskanlah semua yang membebanimu. Dimulai dari kemarahan akan masa lalu hingga kekhawatiran akan masa depan cukup relakan ia datang dan biarkan ia berlalu.

Understanding and then moving on

Kebahagiaan masih menjadi tujuan saya dan mungkin hampir setiap umat manusia lain. Dan tangga pertama menuju hal tersebut adalah membiarkan diri untuk ditempa dunia. Salah satu hal terberat bagi saya adalah mengampuni kesalahan saya di masa lalu. Memahami dan mengampuni pengetahuan minim yang mendasari keputusan ceroboh saya.

Tidak ada pengampunan tanpa pemahaman. Begitulah yang saya pelajari dalam setiap buku, video hingga perjalanan saya sendiri. Dalai Lama menyebutkan the true hero is one who conquers his own anger and hatred. Yap, mengampuni untuk kemudian mencintai diri sendiri adalah hal terberat dan sedang terus saya pelajari dan praktikkan.

Mungkin setiap perkataan saya pada tulisan ini terdengar sedikit klise dan melankolis. Namun pada waktu yang tepat, ketika kalian jatuh dan membutuhkan titik terang. Saya yakinkan memahami, mengampuni, merelakan adalah tiga hal dasar untuk melalui ujian dalam hidupmu. Saya sendiri mempelajari ini secara teori dalam waktu lama, hingga akhirnya mempraktikkan yang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Take it as friendly advice, let it come embrace and understand what it wants and then when the times come, let it all go.

Life isn’t a hundred-meter race against your friends, but a lifelong marathon against yourself. -Haemin Sunim

Beberapa minggu terakhir saya memaksakan diri saya untuk kembali mempelajari beberapa prinsip dasar dari kehidupan. Saya membaca, mendengarkan podcast dan berbagainya mulai dari Dalai Lama hingga Haemin Sunim. Saya sudah cukup lama mengenal tulisan mereka namun benar benar meresapi beberapa waktu terakhir. Mungkin di momen lemah, disitulah kekuatan kita muncul.

Dari berbagai hal yang saya pelajari, saya simpulkan bahwa dengan memahami bahwa kita tidak belong to anyone but ourselves adalah salah satu kunci dalam kerelaan. Terdengar cringe memang membaca ulang tulisan saya hari ini. Namun, saya menyadari bahwa pembelajaran merelakan benar benar mengajari saya untuk mengampuni dan berhenti mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Saya merelakan setiap kesalahan saya yang memberikan dampaknya di masa gini, saya pun merelakan diri saya untuk ketidakpastian masa depan. Sebagaimana mantra yang disebutkan oleh Haemin Sunim dalam podcast bersama Elizabeth Day, ‘dear mind, I will worry about it when the time comes’. Be happy and let it go, friend

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store