Day 22 : About Today

Hari ini saya akan menuliskan tentang hari ini. Ketika saya memulai 30 Day Writing Challenge, saya penasaran akan hari ini. Kira-kira hal apa yang akan saya hadapi, cerita dan tulisan apa yang menggambarkan hari hari itu. Little did I know that that one battle I have to face within days. Sedikit lucu memang membayangkan hal berat terjadi ketika saya mulai mengenal diri dalam tantangan menulis kali ini. Namun, begitulah kehidupan sepertinya memang.

Hari ini adalah hari kesekian setelah saya menghadapi salah satu peristiwa yang menyebalkan dalam hidup saya. Botol emosi yang saya pendam telah retak dan menyebabkan panic attack entah seri keberapa, the worst feeling and experience ever. Saya menutup pintu dari diri saya dan orang lain. Akhirnya, badan dan isi kepala saya yang tidak mampu menghadapinya, seluruh penyakit yang tidak pernah ada tiba tiba muncul begitu saja. Sampai detik ini, saya tidak mengerti namun hal itu memang terjadi.

Oct, 8 2020

Memulai hari ini, saya bangun tidur dengan perasaan tidak enak di perut saya. Sebuah hal yang hampir setiap hari ada, sejak dua minggu belakangan ini. Kebetulan, saya mendapat jadwal untuk Work from Home hari ini, setelah seharian bekerja di kantor. Mengajukan ijin untuk sakit yang saya tidak tahu sebabnya memang bukanlah salah satu kemewahan yang saya punya di tempat kerja. Sehingga, tidak ada pilihan untuk suck it up. Hari saya berlanjut dengan membuat salah satu obat tradisional untuk meredakan permasalahan di perut saya.

Sejak dua minggu lalu hari saya cukup disibukkan dengan rutinitas yang baru. Saya harus mengisi perut saya selama 6 kali di jam dan waktu yang tepat, belum lagi berbagai obat tradisional harus saya konsumsi. Ya, hal itu terjadi karena pilihan saya meninggalkan pengobatan medis karena menunjukkan gejala yang lebih buruk dalam sepekan terakhir. Sebuah kedisipilinan dan ketertiban yang harus saya terapkan yang terkadang tidak menjamin kesembuhan yang saya idamkan.

Kemudian saya mulai memutar podcast dan youtube menyoal mental health, dan ketenangan diri pada ponsel pintar saya. Untuk kemudian saya biarkan bersuara sembari saya memasak seadanya dan selanjutnya mengerjakan pekerjaan sedikit lewat laptop maupun ponsel. Beberapa kali saya merenungi keberuntungan saya mendapat kemewahan WFH walau tidak setiap hari. Lalu beberapa kecerobohan saya menghadapi pandemi ini karena karakter saya yang kurang disiplin. Sisanya, mengingat beberapa kenangan masa lalu dan berharap tidak terjebak dalam nya.

Hidup saya tidak lepas dari sebuah perenungan demi perenungan. Kebiasaan saya untuk mumbling berbagai hal, ke kakak saya dan orang terdekat saya terkadang membuat mereka muak mungkin. Namun, itu adalah satu dari sekain proses kebangkitan dari mati suri yang sempat saya rasakan. Akhirnya, di tengah pekerjaan dan berbagai hal saya memikirkan satu hal yang saya takutkan. Mungkin salah satu yang mendasari datangnya sakit saya. Saya berusaha melakukan riset kecil soal apa yang saya hadapi, dan berbagai hal yang bisa saya lakukan.

Dan tibalah dengan satu keputusan saya untuk mengambil salah satu keputusan medis yang saya lakukan. Hal ini saya lakukan setelah berbagai panggilan telfon, riset demi riset yang saya lakukan. Mungkin, bagi orang lain sangat berlebihan cara saya berfikir. Namun, saya muak bagaimana ujung kepala hingga kaki saya acting up tanpa berkisinambungan, tanpa saya tau sebabnya. Dokter secara medis ataupun psikolog pun sudah saya kerahkan, namun hasilnya hanya memperburuk. Tidak heran, kompleksitas dalam kepala saya kadang menenggelamkan saya.

Akhirnya tanpa memberitahukan satu orang saya terdekat, saya meninggalkan laptop dan bergegas mengambil jaket saya dan pergi ke salah satu tempat tindakan medis dan mengambil keputusan itu. Saya tidak tau apa yang akan terjadi hingga esok hari. Namun, keberanian yang saya tahan karena banyak faktor untuk akhirnya menghadapi ketakutan saya. Ketika pulang, usai membersihkan diri saya mencoba melakukan sedikit apresiasi dan mengisi diri saya secara fisik dan mental. Berharap semua itu bisa menyembuhkan luka saya sedikit demi sedikit. Karena luka yang kau ciptakan, maka hanya kau yang bisa menyembuhkan.

I guess today is about overcoming my fear and I can’t be more proud than myself. You do good, girl!

Phew. Saya rasa tulisan hari ini cukup tidak berstruktur dan tak ubahnya sebuah diary. It doesn’t matter tho. Saya tidak tahu mengapa saya menceritakan hal seperti ini ke platform ini. Mungkin keyakinan saya bahwa tidak ada orang yang cukup mengenal dan tertarik pada kehidupan saya untuk membaca dan memahami apa yang saya maksud. Atau murni karena saya ingin diri saya di masa depan membaca nya dan bangga atas apa yang saya lakukan. After all, I write for myself first before anything or anyone comes up. So yeah.

Ada satu hal yang saya pelajari dari hari ini dan perjalanan yang saya hadapi. Ternyata, saya bisa menghadapi satu dari ratusan ketakutan yang saya hadapi. Memang perjalanan ini tak ubahnya kita menerjunkan diri dari air terjun atau mungkin pesawat. Kamu tidak tahu apakah kamu akan selamat ataupun terluka. Namun memaksakan dirimu dalam satu tempat dan ketinggian yang kamu tidak tahu ujungnya hanya berakhir memberi perangkap baru pada hidupmu. Let’s just fly ourselves up. Overcome your fear and embrace yourself.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store