Day 21 : Things About Love

These past weeks maybe the hardest days I’ve ever been mentally and and even more so physically. I tried so hard to fight it, but my body keeps acting up. So, I accept my defeat on life. Yeah, I missed out so many days for writing, walking and any aspect on life. But yeah, it is what it is. So, yeah let’s talk about love pals!

Membicarakan cinta, kasih sayang dan segala perasaan indah lainnya bukanlah hal mudah. Pertama, saya bukanlah orang yang layak membicarakan cinta, karena persona saya masih belajar dan memahami makna dari cinta itu sendiri. Bahkan sedikit cringey bagi saya untuk membicarakan dan menulis hal seperti ini. Mungkin ijinkan saya bercerita sembari menunggu otak saya sedikit kooperatif untuk bekerja sama.

Memasuki usia 25 tahun, yang bagi saya cukup muda. Saya menemukan berbagai hal berat yang menimpa saya, mental dan fisik. Mungkin karena minimnya perhatian saya kepada tubuh jasmani dan rohani saya. Beberapa hari ini saya mengalami masa yang berat, khususnya dalam hal fisik. Saya mengalami bertubi tubi unexpected and unknown illness. Itu baru secara fisik, namun secara mental banyak hal yang mengganggu kestabilan emosi dan ketenangan saya. Hari yang berat bagi saya.

Bagi orang yang tertutup dan mencoba figure out all things on her own. Saya merasa kalah juga dalam pertempuran saya. Dalam pertempuran ini entah berapa air mata yang saya keluarkan wujud dari kelelahan saya. One thing I always forget, I have family, boyfriend, and some friend I (maybe) can count on. I learn how to give and forget how to take. I forget about love, and even so the language of love itself.

Love is a verb

Ketika membicarakan cinta, kita sering memahaminya sebagai hal intimasi, tanpa kita memahami bahwa cinta dan kasih sayang bukan semata mata perasaan. Kita sering lupa, bahwa cinta adalah kata kerja. Memahami cinta sebagai sebuah hubungan intimasi antara manusia adalah hal yang salah. In the end, we need to work it out so hard to even speak the language of love.

Saya dan mungkin kita sebagai orang Asia, mengatakan dan membicarakan cinta bukanlah hal yang sering kita lakukan. Namun, dari pemahaman saya menyoal cinta adalah keteguhan kita untuk bertahan di tengah frustasi kita dan tetap menunjukkan cinta dan kasih sayang di tengah keterbatasan kita itulah bahasa dari cinta. I learn it the hard way about life, but love is harder to think and understand than life itself. After all, love is essential part of life itself. Even, we are byproduct of love itself, hopefully, If it’s not, doesn’t matter as long you love yourself.

Memiliki orang terdekat dan terkasih tidak membuat saya mudah memahami cinta dan kapabilitas saya untuk mencinta meningkat drastis. Namun, ketika saya jatuh dan terpuruk dalam beberapa minggu terakhir. Saya menyadari, cinta adalah kata kerja. Kehadirannya di hidup saya dan mencoba memahami setiap air mata saya, walau seringnya tidak memahami karakter dan isi kepala saya. But, nobody does. But that kinda feeling of presence of other people is just one thing I need that time. Saya membayangkan betapa frustasi nya orang lain untuk menghadapi seluruh isi kepala saya yang bahkan saya sendiri masih tidak bisa memahaminya. I guess, love is a (continuously) verb.

Love isn’t something you found

Pembahasan dan pengertian bahwa cinta adalah sebuah hal yang bisa kita temukan along the way. Beberapa perkataan seperti ‘tidak perlu ditunggu, nanti kan datang sendiri’ adalah sebuah kepalsuan. To have everything, you need to give it all. Saya memahami untuk mendapatkan kehangatan yang saya impikan, saya harus memberikan kehangatan yang sama bukan hanya untuk satu orang namun pada semua orang. Entah, siapa yang memulai pemahaman cinta yang akan datang tiba-tiba sebagaimana di kisah Disney. Karena pada akhirnya, cinta harus diperjuangkan bukan semata-mata ditemukan.

Love isn’t something you can claim or find it along the way. Begitulah yang saya pahami. Pada akhirnya kita perlu work it out to have that kind of love. Saya tidak merasa cukup beruntung karena memiliki significant other, karena pada akhirnya I do deserve it. Dalam kehidupan, saya dan mungkin kamu juga tidak diberikan kerikil sedikit demi sedikit namun langsung batu besar yang menghancurkan dirimu hingga berkeping keping. Namun, itulah yang menciptakan persona saya sekarang. And after all those work on myself and all the battle that will come, love isn’t even the prize.

Cinta adalah satu dari sekian hal yang saya perjuangkan sampai di titik ini. Namun perjuangan dan segala battle soal cinta sendiri cukup berat untuk diisi dalam kehidupan ini. Cinta adalah salah satu lapisan sebelum sampai ke inti bumi, bagi saya. Sebagaimana mantel bumi yang melindungi inti bumi, seperti itulah cinta. Kita, tak ubahnya sebagai inti bumi yang merupakan bola panas namun jika kita sedikit bersabar dapat menemukan berbagai partikel besi mulia. Love isn’t something you found, it’s all around you, if you look closer. It is something only you can create and give.

Saya tidak tahu jenis tulisan apa yang saya tulis kali ini. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, mungkin saya akan tertawa dan mengingat proses menulis yang penuh kesakitan. Forgive me guys. I’m not on my right mind, after all. Well it is what it is. Dalam pertempuran yang sedang saya hadapi ini, saya merasakan peran penting dari cinta itu sendiri. Cinta yang saya berikan kepada diri saya sendiri ataupun orang lain terdekat bagi saya. Perasaan itu sedikit demi sedikit menyembuhkan dan membasahi jiwa saya yang mulai gersang.

Hal ini menjadi catatan bagi saya, untuk terus memberikan cinta dan kasih sayang kepada orang sekitar saya. Cinta dan kehangatan yang sama diberikan oleh orang-orang sekitar saya ketika saya terpuruk seperti ini. I guess, love is beautiful after all. And if you get lucky enough to find someone to listen your scream and tears without saying words just be there for you. Well, I guess that is love. You keep it till the end of the day. I’m still trying to figure out love itself. But one thing I know, love is beautiful after all.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store