Day 20 : My Celebrity Crush

Memilih celebrity crush untuk didedikasikan ke dalam tulisan bukanlah hal yang mudah. Saya punya deretan celebrity crush dan role model yang menjadi pedoman sekaligus hiburan saya untuk melewati hari hari. Saya harus memilih mulai dari Nicholas Saputra (ofc), Mark Rufallo, Eva Celia , Rara Sekar, dan banyak lagi. Namun sepertinya saya memutuskan untuk menulis tentang Eva Celia di tulisan hari ini. Okay, here we go.

Saya mengenal sosok Eva Celia ini sejak saya masih anak-anak. Saya mengetahui latar belakang keluarga dan kisahnya melalui layar kaca televisi dan tidak ada yang spesial kala itu. Namun, waktu berlalu hingga ia kembali ke Indonesia dan ditengah kegabutan dan kebimbangan saya kala itu. Pada tahun 2012 saya mulai berjelajah di youtube dan menemukan Eva dan Indra menyanyikan lagu Angels on My Side. And somehow, her angelic voice moved me and even made me burst into tears. Again, music saved me. And she’s part of those music.

Voice of Mine

Life can be hard I know, but no room for us to complain
Try always as you go, is too is the pain
If only I can tell you the pain will gets fade away, you can rest know

Indra Lesmana ft Eva Celia — Angels on My Side

Saya selalu mempunyai hubungan religius dengan musik dan lirik. Bagian seni ini kemudian yang membentuk saya untuk memahami sandi sandi kehidupan. Ketika saya mendengar suara Eva Celia yang tidak hanya angelic namun ada makna kedalaman yang luar biasa, bagi saya kala itu. Ada sisi keseriusan dan kegelapan yang mungkin sama saya rasakan kala itu. Bisa saja saya yang mengada ngada, namun that’s exactly what I need in that time. Someone to say that I’m not alone.

Saya kemudian mulai mengikuti ia di media sosial dan single dan albumnya, berawal dari sana, kemudian saya melihat bagaimana ia outspoken about mental health. Jika ada dari kalian mengikuti beberapa tulisan saya sudah pasti tahu bahwa mental health is one of my top priority. Pada masa itu, saya tidak mengetahui harus berbicara dengan siapa atau bahkan topik tentang hal tersebut masih tabu kala itu. Dan ketika beberapa public figure mulai membicarakan soal mental health, salah satunya adalah Eva Celia. Sehingga, saya sangat tertarik dan lama kelamaan menjadikan ia sebagai salah satu role model saya tanpa saya sadari. It’s okay to not be okay. Setidaknya begitulah yang saya pelajari dari Eva, kala itu.

Perasaan dan keyakinan bahwa semua yang saya rasakan adalah hal normal yang dirasakan mungkin banyak orang membuat saya sedikit kuat. Saya sendiri tidak mengetahui alasan pasti mengapa dari sekian suara musisi, saya sangat cocok dan menyukai suara dia. Mungkin karena suara dan kesungguhan dia dalam bermusik. Namun lebih dari itu, saya menemukan suara ia di momen saya perlu mendengarkan dari orang lain that everything gonna be okay. Sebagaimana lagu yang ia nyanyikan ‘nothing to fear now, no need the tears in your eyes, for they would bring us together and wish that they could, when the moon is staying by your side, the angels will always be on my side’.

Exclusive, yet Inclusive

Sitting quietly I trying to remember when, when I used to live in fear
I never thought that I could turn my life around

Eva Celia — Reason

Saya mengidolakan Eva sebelum ia mulai outspoken soal climate change, vegan, dan utamanya mental health. Semenjak mendengar suara angelic-nya, saya selalu menunggu single yang akan dikeluarkan. Dari berbagai single yang ia keluarkan, lagu pertama yang masuk dalam playlist saya adalah Reason dari album So, It Begins. Dan untuk sekarang Love Within telah masuk dalam lagu yang saya putar berulang ulang. Jika, kalian mengamati lirik dan komposisi musik nya memiliki sifat menyembuhkan dan menenangkan. Setiap lagu yang ia keluarkan bagi saya cukup menyembuhkan dan tidak tampak cheesy seperti yang diinginkan oleh pasar seperti itu. Dan bagi saya itu adalah hal yang cukup menenangkan dan menghibur.

Beberapa menyebut bahwa yang mendengarkan lagu dari Eva adalah orang yang mengerti musik, dan tidak untuk semua kalangan. Bagi saya itu tidak berlaku, mengingat saya tidak begitu mengerti musik selain sebagai pendengar. Bagi saya setiap lagu yang ia keluarkan memang berbeda dengan selera pasar kala itu sehingga terkesan eksklusif. Saya bisa memutar lagu itu di tempat umum, tanpa menjadi sumber karaoke banyak orang. Dan itu menyenangkan. Saya bisa menikmati musik untuk diri saya sendiri. Namun, lebih dari itu setiap musik yang ia keluarkan juga bisa menjangkau ke semua kalangan dan tidak berbatas pada ‘yang mengerti musik’. Bagi saya, single yang ia keluarkan cukup menyembuhkan.

Bagaimana ia bersikap, setidaknya di publik bagi saya cukup menarik. Karena ia tidak ‘menjual’ dirinya bagi publik. Dan saya belajar banyak hal dari itu. Produk musik dan personal branding yang ia ciptakan ekskulsif namun di satu sisi juga inklusif karena mencapai ke semua kalangan. I think, it’s a perfect combination we need to live in society. Bagi saya, celebrity crush bukan sekadar hiburan semata. Saya tidak punya hak untuk menuntut siapapun menjadi sempurna. Namun, menjadikan ia salah satu role model saya untuk bersikap, dan mencoba menyeimbangkan diri antara idealis dan pragmatis untuk bertahan di dalam dunia ini. Don’t be yourself but be the best version of yourself! Cheers!

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store