Day 2 : What is Being Happy, Anyway?

Things that makes you happy. Sebuah topik yang cukup berat bagi saya untuk ditulis di hari kedua ini. Hampir setiap hari saya melakukan refleksi tentang alasan untuk saya tetap dan terus bahagia. Lagipula menyoal apa definisi dari kebahagiaan itu sendiri, saya pun belum menemukannya.

Beberapa tahun lalu, pada tahun 2016 tepatnya saya mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh SEJUK. Pada salah satu sesi, seorang pembicara menanyakan satu kata yang ingin kamu capai. Beberapa peserta menyebut satu kata yang menggambarkan idealisme dalam diri masing-masing. Dan saya teringat kata yang saya jawab adalah ‘happiness’.

Yap, menjadi bahagia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Sebagai seorang pesimist, lebih mudah untuk melihat nilai negatif dari suatu kejadian daripada sebaliknya. Saya selalu mempersiapkan diri untuk kemungkinan jatuh dan tersungkur daripada berada di fase membahagiakan. Sebuah pikiran sederhana tentang ‘being happy’ tidak ada dalam kosa kata dalam kehidupan saya.

Bagi beberapa orang, dapat terhibur dengan menjadi pusat perhatian sisanya kesederhanaan netflix and chill sudah cukup membahagiakan. Bagi saya sendiri being present without worry about what will happen or what has been happened adalah sebuah kemewahan dan mungkin bisa jadi kebahagiaan itu sendiri.

Saya selalu menyukai kegiatan menulis, mendengarkan musik, menonton film untuk mengisi keseharian saya. Tapi apakah itu membuat saya bahagia? Well, at some times it’s just way too loud. Ada fase ketika saya menemukan bahagia dengan berada di ruangan gelap dan do nothing at all. Tidak ada hal yang sama ataupun rumus pasti tentang things that makes me happy.

Saya sering menceritakan kegelisahan ini ke beberapa orang yang saya kenal. Terdapat beberapa rekomendasi mengenai kebahagiaan sudah saya terapkan mulai dari praktik mindfullness, konmari, praktik yoga ataupun meditasi. Nothing really works. Namun dari beberapa hal itu ada satu hal pasti yang saya pelajari. Being happy is state of mind.

Saya tidak bisa mengandalkan kebahagiaan dengan menumpukan kebahagiaan saya ke satu dua kegiatan, atau lebih buruknya ke orang lain. Karena pada akhirnya kita harus menemukan kebahagiaan dalam diri saya sendiri. Terlalu sederhana saya kira ketika menyebutkan satu dua kegiatan sebagai indikator kebahagiaan kita. Karena kebahagian tidak hitam dan putih, ada ratusan warna lain yang bisa kita pilih.

So, what is your happiness anyway?

To be honest, I don’t have any idea. Terkadang saya menemukan kebahagiaan di tengah obrolan sederhana di antara teman teman dekat, saudara, hingga ibu penjual jamu yang sering lewat di depan tempat tinggal saya. Juga beberapa hal seperti overheard obrolan dari tetangga, jokes dan meme yang menggelitik, hingga maraton film Nicolas Saputra. Saya temukan ada berbagai perasaan seperti gratitude, funny, relief yang adalah sebagian dari spektrum kebahagiaan itu sendiri.

Terkadang saya melupakan bahwa inti dari kebahagiaan sendiri, adalah untuk memiliki kesadaran betapa sederhananya hidup ini. Pikiran kita membuatnya sangat rumit, tapi pada dasarnya memiliki kesederhanaan dalam kehidupan adalah sebuah kemewahan. Mungkin menemukan kebahagiaan itu berada dalam diri kita sendiri. After all, being happy is finding peace within yourself. Being happy (or not) is a choice.

Or maybe life is as simple as if you want to be happy, then be.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store