Day 19 : Crazy Stupid Thing Called (First) Love

Tulisan ini mungkin akan menjadi salah satu tulisan ter-cheesy yang pernah saya tulis. Saya sendiri tidak membayangkan diri saya menulis tentang cinta pertama. Entah geli, atau ingin mengenangnya sebagai memori yang indah dan lagi cheesy. Tapi saya pikir semua orang pasti pernah menemukan dan berada di masa seperti ini. Kesederhanaan dan polosnya diri kita yang belum benar benar mengerti kehidupan.

Sejak kecil saya bukan pribadi yang mendengarkan lagu cinta dan kata tersebut tidak masuk dalam kamus keluarga saya yang cukup asia. So, I don’t think I’m capable on being in love or speak the name of it. Menyukai orang lain adalah hal yang tabu dan saya tidak pernah menyangka dapat melakukannya. Ada baiknya memang kita tidak menghakimi diri sendiri ya. Because, boy just overnight it changed me.

How it all started

Saya mengenalnya sejak saya masih di bangku sekolah, meski saya hanya melihat wajahnya dan sapaan atas dasar kesopanan. Namun, ketika kita dipertemukan di masa peralihan sekolah saya, semua berubah begitu saja. Kebingungan saya untuk beradaptasi dan mengenal dunia baru ini, dia adalah salah satu yang membantu saya untuk figure out things out. He’s really one of kind. He’s kind and his big smile somehow made me get through day to day. Perasaan itu tidak muncul seketika, namun setelah beberapa kebaikan yang bisa jadi diberikan kepada semua orang. But, my conflicted personality just need a little speck of kindness I’ve never get those days. And yet he’s all I got.

Beberapa teman dekat yang mengetahui ini memberi code name dia Kuintal, ketika kita membicarakannya. Sama sekali tidak ada hubungan dengan namanya, atau identitas lainnya, simply our internal jokes. Pengalaman first love, so they said benar benar membingungkan bagi saya. Karena, saya harus menahan diri untuk tidak mempermalukan diri saya.Tapi tentu saja semua hal tersebut gagal. Saya sempat berfikir bahwa ini tidak lebih perasaan sederhana agar bisa mengikuti pembicaraan kawan soal percintaan. Namun setiap kali saya menepis perasaan tersebut, kembali kesederhanaan dan kebaikan yang dia berikan pada saya telah menjadi satu satunya yang saya butuhkan, kala itu.

After all, the heart wants what it wants. Saya mengubah diri, mengikuti ekstrakurikuler dimana dia menjadi anggota senior disana. Saya menitipkan salam melalui salah satu kawan saya untuk disampaikan kepada dia. Dan tentu saja sering kali mempermalukan diri saya. Tidak ada yang saya sesali dari pengalaman memalukan itu selain ucapan menyebalkan dari teman teman sekitar, but they don’t know what I get through, neither do I. And again, just a speck of kindness and caring from him is all I need. I’m starting to believe in people, human, and my own heart. So, meeting, falling in love, laughing even crying for him is the beginning of my present self. So I have no regret.

How it ends

Sejak awal bertemu dan jatuh cinta saya dengan Kuintal, saya tidak pernah memiliki ekspektasi. Namun, pengalaman yang saya alami cukup membahagiakan saya kala itu. Kembali lagi, saya mengubah diri saya untuk sekedar melihat dia. Saya mengikuti salah satu ekstrakurikuleryang tidak saya sukai, namun akhirnya itu membuka peluang percakapan dan beberapa momen dengannya. Beberapa kali dia menyelamatkan saya dari serbuan kakak kelas untuk sekadar mengobrol saja, berdua atau beramai ramai. Saya mengikuti kegiatan satu dan lain yang menyebabkan saya dapat berdekatan atau sekedar melihat dia.

But, as love without any expectation. I knew, sooner or later it will end. Salah satu kenangan sederhana yang saya miliki sebelum perpisahan adalah setelah salah satu kegiatan dari ekstrakurikuler menyebalkan itu. Dia menawarkan mengantar saya pulang dengan semua barang bawaan saya. Ya, saya mengetahui hal tersebut tidak terlepas dari kesopanan dan karena ia sudah mengenal saya sebelumnya. But, every small talks that day while my heart beats faster, yeah it’s a sweet memory. Dan akhirnya, saya hanya bertemu dia setahun atau dua karena dia akan meruskan bangku kuliah. Di hari kelulusan, kemudian saya memutuskan untuk ikut sebagai salah satu pengisi acara, bukan karena kepedulian saya. Tentu saja, karena saya ingin memberikan dia selamat serta perpisahan untuk terakhir kali. Dan itulah kali terakhir saya bertemu dengan dia.

Does he know and was it love at all? So I thought. Saya tidak pernah benar benar mengetahui. Seusai berpisah dengan dia, saya masih mencari dan merindukan kehangatan yang sama. Namun ketika dia kembali mengontak saya melalui platform social media, saya masih dengan bodohnya gugup membalas dan semuanya. It took a long time to forget all about him. The feeling is gone already but remembering those memories still give me butterfly. I guess, it was a first love. Love without expectation, pure and stupid all the time.

It is a cheesy writing, indeed. I don’t believe in love and people before I meet him. Di momen saya kehilangan arah dan kedinginan perasaan saya. Kemudian datanglah kehangatan yang ia berikan pada saya. Berawal dari kehangatan tersebutlah saya kemudian tumbuh sedikit demi sedikit memberikan kehangatan yang sama kepada orang sekitar saya. Karena kita tidak tahu, battle apa yang sedang mereka hadapi. Thanks to you, Kuintal that I’m capable of being loved and love someone. And I will always remember all those sweet feeling with no expectation at all. Love is beautiful after all.

The feeling is gone already. But you still whisper a wish for his happiness every single day. That’s not love anymore, that’s what comes from every laugh, fight, tear, intimacy, routine you’ve been through together.

Lala Bohang — The Book of Forbidden Feelings

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store