Day 15 : Somewhere Over The Rainbow

Saya selalu suka pilihan untuk melarikan diri sejenak dari kehidupan. Pemikiran untuk selalu melarikan dan mengasingkan diri dari setiap circle yang saya temui, untuk sejenak rehat dari penatnya dunia. Sebelum pandemi, saya selalu melakukan hal tersebut setidaknya setahun sekali, untuk pergi dan mengasingkan diri sejenak. Namun pilihan ini mungkin hilang untuk sementara.

Semasa saya bekerja dan hidup di pusat kota, saya selalu meluangkan diri untuk berjalan kemanapun sebelum menunggu transportasi umum. Headset yang selalu memutar lagu Lily Allen, Somewhere Over The Rainbow. Mendengarkannya sambil berjalan menyeberangi jembatan penyeberangan dengan riuhnya dunia, I feel a little peace inside my mind. Sedikit menyedihkan tampaknya, namun kedamaian dan kebahagian meskipun itu hanya remah remah selalu saya pilih untuk lakukan.

I’m everywhere and nowhere

Bali adalah salah satu tempat yang saya bayangkan kala mendengar lagu tersebut. Sebelum akhirnya tinggal di Bali, saya selalu membayangkan kehidupan yang berjalan lamban, tanpa dikejar kejar waktu. Well, in that way it might be true. But the real life isn’t gonna wait for us, is it? Kehidupan pekerjaan, sosial dan berbagai tuntutan lainnya kadangkala membuat kehidupan dengan waktu berjalan lamban seperti yang saya idamkan. Akhirnya, bagi saya kesehatan juga yang menjadi imbasnya.

Memilih satu tempat dimana saya sedikit merasakan dan menciptakan kedamaian bukanlah hal yang mudah. Saya sudah mengatakan itu berkali kali. Mungkin sebuah tempat dimana support system saya berkumpul. Dimana saya bisa menangis sejenak dan melupakan kehidupan di tempat ini. Mungkin tempat dimana masa lebih sederhana, dan masalah tidak jauh dari persoalan sehari hari.

Saya tidak menyukai kota dimana saya menempuh pendidikan tinggi dulu. But boy, I would give everything to go back to those times. When laugh and fight happen at the same time. Sure,it’s not the best moment, I cried a lot. But those simpler time with the same exact people, I would gladly cry and hurt all over again. I am nowhere and everywhere as long as I relive those kind of contentment feeling again.

Sky Above, Along The Coast

Saya selalu menghargai waktu untuk sedikit menyendiri dan mengambil rehat sejenak. Kebiasaan saya untuk merenungi setiap pilihan yang saya telah lakukan, setiap penyesalan dan juga rasa syukur. Bersikap untuk positif jelas bukan pilihan yang dapat saya pilih. Pandemi ini cukup berdampak buruk mungkin pada kesehatan pikiran dan jasmani saya dan juga hampir semua orang di luar sana.

If I could go anywhere, maybe I’d go to the place and time when there’s no pandemic things. Maybe I’ll prepare myself a better soul for the battles about to come. Maybe I’ll go to the beach more often, even if I don’t like it that much. Maybe I’ll go walk along the coast and looking at the sky above. Pada akhirnya, rasa syukur dan kerinduan kita akan kebiasaan dan rutinitas lama kita harus dirasakan setiap hari. I miss those simpler time.

Saya tidak benar benar menyukai diri saya di masa lalu. But then again, I miss my old self. Kekhawatiran kita akan masa yang akan datang dan kebahagiaan yang kita rindukan tidak pernah datang memang kadangkali cukup menyiksa. Again, I’ll go back to those simpler time. Jika memilih sebuah tempat adalah hal yang harus saya lakukan. Maka, saya akan memilih tempat dimanapun saya bisa sejenak meninggalkan pikiran dan kekhawatiran saya, menghilang untuk sementara dalam waktu singkat ataupun lama. Namun, pada akhirnya pembentukan jiwa kita terbentuk karena setiap benturan yang kita alami. So, I guess it is just the way it is, right?

Well, I don’t have any idea why do this writing is a little bit personal for me. Ketika saya membaca tema hari ini, saya tidak dalam kondisi cukup baik untuk berfikir jernih. Saya berfikir berulan ulang apa yang sebenarnya saya inginkan. Dan akhirnya, saya membiarkan imajinasi membawa saya ke tulisan apapun yang akan terbentuk dari kegelisahan ini. But I guess, I do miss those simpler time.

Situasi seperti pandemi atau segala krisis personal maupun tidak, akhirnya akan terjadi kepada kita. No matter how hard we try to not make it happen. But the idea of reliving those simpler time is just beyond temptation for me. Maybe, I’ll choose to relive it even if it’s inside my head. Well yeah, at last I’m everywhere but nowhere.

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store