Day 10 : Friends Will Be Friends

A very personal post

Selalu menyenangkan untuk membicarakan sahabat bagi kehidupan saya. Bagaimana tidak? salah satu kekuatan saya untuk bertahan hidup sampai sekarang tidak lebih dari kehadiran para sahabat saya yang menemani. Saya bukanlah orang yang mudah bergaul. Kebiasaan saya untuk melakukan observasi seseorang membuat saya sering mundur dari dunia sosial daripada mencoba masuk terlebih dahulu.

Terkadang saya berpikir bagaimana bisa ada beberapa orang yang mau menerima karakter seperti saya. Tapi pemikiran seperti itu sepertinya dimiliki oleh sebagian banyak orang, dan bukan hanya saya seorang. But seriously, I thank the universe for meeting them. I don’t know what will I be with all those story of mine. So this is gonna be dedication post. And for the sake of privacy, I’m not gonna put neither picture nor name.

Crazy Together

Mereka adalah sahabat terlama yang saya miliki. Pertengkaran, perselisihan, tangis, patah hati, hingga tawa sudah cukup kami lalui. Sampai sekarang saya masih bertanya tanya apa yang membuat kami dekat. Maybe this is the answer the universe give to me, so i thought. Kehadiran mereka sangat penting bagi saya, karena pencarian diri saya, adaptasi yang sulit saya hadapi, selalu ada mereka di samping saya. Pada masa lalu, saya sempat terbagi pada kehidupan sosial mana yang harus saya pilih. Luckily, I chose them. I would do the same all over again, even it give me the same miserable feeling of society.

Kami memiliki kebiasaan untuk bercerita melalui email, meskipun kami bisa melakukan melalui jejaring mana pun. Entah mengapa. Mungkin, karena kami sama sama tidak pintar dalam mengungkapkan perasaan dan bercerita. Kebiasaan aneh kami lainnya seperti menamai diri kami sendiri ‘crazy together’ hanya karena sebuah kutipan serial yang saya kirimkan. Kami selalu mendukung untuk setiap kondisi, namun kami seringnya tidak mengetahui permasalahan satu sama lain. Mungkin karena kami sama sama tertutup. But I do know, when the worlds gonna end for me they’ll stick with me till the end of the line.

Saya sering merasa bersalah, ketika saya tidak hadir dan menemani mereka di kala mereka butuh saya. Siapa yang perlu disalahkan? apakah karakter kami? keinginan saya untuk menjaga privasi mereka? kebiasaan untuk menunggu daripada beraksi? entahlah. Maybe, I’m a bitch after all. Apapun hal tersebut, kebiasaan mereka memaafkan kelabilan saya tidak dapat saya tukar dengan apapun. Dan apabila mereka membaca, saya ingin mereka tahu bahwa kehadiran mereka benar-benar menyelamatkan saya dari kegelapan. And maybe I’m a little bit pushy, but I just want to save you from the same darkness of life. I’ll be with you all the way. I love you guys!

“Friends will be friends
When you’re in need of love they give you care and attention”

Friends Will be Friend — Queen

The Mimis

Mereka adalah sahabat yang saya temui ketika beranjak dewasa. Ah, kehadiran mereka sudah tidak perlu saya sebutkan pentingnya. Karakter yang saya miliki cukup complicated. Saya masih mencari seperti apa diri saya sendiri hingga saat ini. Kehadiran mereka benar benar memberi warna cerah di hidup saya yang kelabu. I don’t think that i’m able to make friend at all, until I met them. Kami membicarakan hal yang sama, kami mengerjakan semuanya bersama, kami membicarakan orang yang sama bersama-sama. Basically, we do everything together.

Dengan mengenal mereka saya mempelajari untuk push myself out of comfort zone, or even out of window. Bagaimana saya bisa belajar bersuara dan mengetahui bahwa saya didengar adalah dari mereka. Beberapa kebiasaan aneh kita, seperti sering kesulitan memutus telfon semacam drama di televisi. Maybe, we don’t want to end it or simply our reluctant character. Tapi, kami bisa duduk di suatu tempat ber jam jam to talk about nothing or simply mutual silence. That’s absurd, I know.

Salah satu yang saya pahami dari mereka, bahwa mereka tetap menjadi pribadi yang kurang lebih sama dari pertama kali saya temui. Sejak masuk ke dunia kerja saya cukup enggan untuk menemui mereka, karena rasa malu yang saya miliki. ‘How could I do those thing I hate?’, ‘How can I face them like this?’ pikiran seperti ini menghantui saya. Namun dalam hati saya tahu bahwa they would treat and think of me the same. But knowing the fact doesn’t make it easier, I guess. Ah, fuck those insecurities. Well, if you guys read this, hopefully no tho. I always look up to you all for every decision I make. I know that I’m capable of making friends and care for other people. Thank you for being part of my life, I hope we will stay the same. I love you guys.

“Friends will be friends
When you’re through with life and all hope is lost”

Friends Will Be Friends — Queen

The Kuper

Sebenarnya saya sedikit bingung memberi nama salah satu sahabat saya ini. Jadi, saya menamai salah satu internal joke kami saja. Itupun kalo dia menangkapnya. Okay, at last but not the least. Kehadirannya cukup mendadak terjadi di kehidupan saya. Ketika pertama mengenalnya, saya pikir kami tidak akan akur karena karakter kami yang cukup mirip dalam beberapa hal. Namun ketika, kami terpisah kami justru menjadi magnet yang saling terikat. Space give us some perspective about ourselves and friendship as well, I guess.

We don’t talk that much. But we do talk about serious and darkness secret we both have. Ketika saya merasa dirundung kegelapan yang sama, saya tahu dia lah orang yang akan mendengarkan dan tanpa menghakimi. Yaa, semoga perasaan ini terjadi dua arah. Mengenalnya sangat menyenangkan bagi saya. Kenyataan saya bisa lari ke seseorang ketika bertahun tahun saya pendam dalam isi kepala saya sangat melegakan. Dan satu hal, bisa berkata kasar ke satu sama lain tanpa saling menyakiti benar benar menyenangkan.

Dalam beberapa hal, saya sering lambat dalam merespon dan kadangkala hanya bercerita lalu kabur begitu saja. I don’t know why am I always good at running away. Huh. Apapun itu, aku sangat berterimakasih atas kehadiranmu. Mungkin intensitas kehadiranku dan fleksibilitas karakterku tidak semudah orang lain yang kita temui. But I’m a proud (best) friend. I watch and read every single thing you post. Let’s make another ‘never gonna happen’ meeting! I don’t say it loudly. But I do love you!

“Hold out your hand ’cause friends will be friends
Right till the end”

Friends Will Be Friends — Queen

Sebenarnya saya sedikit kesulitan menulis pada hari kesepuluh ini. Entah karena fokus saya yang hilang, atau sekedar gengsi untuk menyampaikan perasaan saya. Tiga circle ini, mengubah dan hadir di kehidupan saya yang membuat saya sedikit menghargai kehidupan. Saya belajar dunia sosial sedikit terlambat dari seharusnya. Tapi mungkin saya dibuat menunggu hingga menuju dewasa untuk akhirnya dihadirkan orang-orang yang sangat berharga bagi kehidupan saya.

Ketika saya membaca kisah saya hari ini, saya menyadari bahwa saya cukup beruntung. Saya tau kemana saya akan pergi ketika menghadapi suatu permasalah berat, berdiskusi hal sederhana, hingga membicarakan kehidupan entah diri sendiri atau orang lain, lol. I feel like coming home everytime I talk each one of them. And I do love them all. It takes time, a loong time indeed to meet each one of them but it’s all worth it. Buat kalian yang membaca ini, ketahuilah bahwa segala hal baik yang terjadi dalam hidupmu membutuhkan waktu. Segala hal buruk yang terjadi dalam hidupmu pasti akan sembuh dan perjalanannya memang sangat panjang. Good things take time, indeed. Virtual hugs for you all.

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store