Saya tidak menyangka bisa sampai juga di hari terakhir pada 30 Day Writing Challenge. Phew. Mengungkapkan sisi personal dan emosional bagi saya tidaklah mudah dan tidak disangka saya bisa melewatinya. Tidak ada yang ingin saya capai pada menyelesaikan tantangan ini. Sama seperti tidak ada yang menyuruh saya melakukan ini. Saya menganggap hal ini sebagai bentuk lain meditasi untuk menghadapi tahun yang penuh perubahan bagi diri saya.

Menuangkan bagaimana perasaan saya ketika saya menulis sedikit rumit, memang. Bagi saya menulis adalah bahasa yang saya lakukan untuk mengurai benang kusut dalam isi kepala saya. Sekitar 2 tahun lalu saya pernah menuliskan alasan saya menulis dan berbagainya disini. Tidak ada alasan pasti, yang jelas saya jatuh cinta pada proses penciptaaan gagasan dan dirangkai untuk kata-kata. …


Sedari saya kecil, saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki cita-cita dan berbagainya. Mengikuti kemana arus membawa saya adalah satu satunya jalan yang saya tempuh. Tak ayal hidup sering membawa saya ke arah yang mengejutkan, perih dan tak terduga. Namun, segalanya tidak ada yang saya sesali. Karena ketidakpastian adalah satu satunya hal pasti dalam hidup sendiri.

Memiliki cita-cita adalah hal yang tidak masuk dalam logika saya. Jika saya terlalu mengikatkan diri saya pada suatu benda atau impian, akhirnya saya akan terjatuh dan sakit. Saya pernah menjadi seorang pemimpi, namun lambat laun saya membiarkan hidup membawa kemana saya berada. Mungkin ini tidak lepas dari jiwa pessimist saya. …


“Bacooooot” begitulah chat yang saya baca dari sebuah kolom chat di salah satu marketplace. Kisahnya sederhana seorang kawan saya seorang pengelola online shop yang melakukan update stok pada produknya. Tiba-tiba seorang calon pembeli tidak terima kenapa tawarannya tidak diterima, padahal kawan saya pun menjelaskan standard operating procedure untuk first come, first served. Bak Dale Carnegie ia menuliskan dengan kata kata penuh kesantunan. Namun, warganet atau mungkin buyer berkata lain.

Segala ucapan dan kata kata kasar membuat saya pun tertegun membacanya yang membuat saya ngilu menuliskan disini. Saya masih terkagum kepadanya yang tidak membalas ucapan serupa. Usahanya untuk melaporkan kepada pihak marketplace pun tidak membuahkan hasil pasti. Alhasil, jurus blokir dan lupakan adalah hal terbaik untuk dilakukan. …


Kembali menuliskan mengenai cinta, kasih sayang dan welas asih adalah sebuah tantangan menyebalkan bagi saya. Sebagai pribadi yang sekeras batu, membicarakan hal yang personal seperti ini bukan lah hal yang mudah. Bagaimanapun juga, saya tidak ingin menyerah kepada emosi yang saya miliki dan mencoba merangkainya.

Saya tidak punya bayangan soal cinta sebagai hal yang agung. Mungkin karena pembicaraan mengenai hal tersebut tidak dibudayakan di keluarga saya, atau karakter saya saja mungkin cenderung malu membicarakan itu. Namun, saya tahu cinta adalah hal yang indah meskipun penuh dengan luka. Saya melihat cinta yang diberikan orangtua kepada anaknya, kekasih kepada pasangannya, hingga cinta kepada orang yang tak layak dicinta. …


Memilih satu atau beberapa orang yang menginspirasi saya cukup sulit. Hal ini karena saya menciptakan bayanga kesempurnaan dari orang lain dan terus menjadikan langkah orang lain sebagai bentuk ekstrem role modeling yang saya lakukan. Saya berfikir untuk menuliskan soal Haemin Sunim dan Dalai Lama, tapi saya yakin kalian sudah cukup bosan mendengarnya.

Sembari saya berfikir, saya memandang sebuah kartu pos yang terpajang di dinding kamar saya. Seorang kawan dekat saya mengirim hal tersebut tiga tahun yang lalu, ketika saya kalut dan gundah akan tujuan saya mungkin sampai sekarang. …


Uh, menceritakan masa sekolah saya bukanlah hal yang menyenangkan. Sebagaimana kalian tahu, saya tumbuh di masa sekolah dasar dan menengah dengan skill dan pengalaman yang tidak menyenangkan. Apa yang harus saya kisahkan? Namun, saya akan mencoba mengisahkan masa menengah atas saya yang kata orang masa paling indah. Dan, bagi saya itu sangat tidak benar.

Mungkin beberapa dari kalian bertanya tanya mengapa saya membenci masa SMA yang sangat berwarna. Well, saya tidak membencinya namun saya menyesalkan kenapa kehidupan harus menempa saya di masa yang mungkin bisa jadi indah. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan ditempa yang membentuk karakter kita masa kini dan bagi saya hal itu terjadi di masa SMA. Tumbuh di sekolah dimana orang melihatmu sebagai anak guru dan saudara dari seseorang yang cukup dikenal memang ada beban. …


Image for post
Image for post

Ketika membaca topik hari ini, saya sedikit bingung apakah berdasarkan urutan terakhir atau terawal. Bagaimana saya bisa mengolah tulisan dari sebuah gambar yang saya pasti sudah lupa. Namun, saya tidak membiarkan overthinking mengalahkan saya kali ini. Well, not today. Untungnya, gambar kali ini tidak mempermalukan saya. Pantai Atuh yang berlokasi di Nusa Penida. Indah, bukan?

Saya bukanlah penggemar pantai dari dulu hingga sekarang. Sedikit ironi mengingat saya bertumbuh berseberangan dengan pantai. Bahkan hingga tempat saya bekerja, masih dikelilingi dengan pantai. Begitulah kehidupan. Lantas, mengapa saya jauh jauh ke nusa penida kalau tidak suka dengan pantai? jawabannya adalah seorang kawan yang memaksa saya menjajaki dunia luar yang selama ini saya hindari. Namun, saya tidak akan menceritakan perjalanan saya walaupun sedikit geli dan tidak terlupakan. …


Melepaskan, merelakan dan mengampuni diri adalah hal terberat yang harus saya lakukan dalam hidup saya. Beberapa minggu ke belakang, saya menyadari pembelajaran mengenai kekuatan ketiga hal tersebut bisa menuntun ke jalan kebahagiaan. Hal ini bermula dari salah satu momen berat dalam hidup saya baru baru ini. Butuh waktu lama untuk membiarkan peristiwa itu terjadi dan merelakan semua perubahan yang harus saya tempuh untuk akhirnya menjadi pelajaran hebat yang saya dapatkan.

Compassion menjadi satu kata kunci sekaligus menjadi favorit saya dan terus saya terapkan dalam perjalanan hidup. Saya menerapkan compassion untuk memahami perlakuan orang lain hingga dunia kepada saya. Sebenarnya, saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa indonesia. Bagi saya compassion bukan hanya bermakna untuk orang lain, namun bagaimana saya bisa mengampuni setiap kesalahan setiap pilihan saya. …


Image for post
Image for post

So, I delete my social media. Sebuah keputusan yang sering maju dan mundur saya lakukan. Sejak masa kuliah saya sudah memberi perhatian lebih pada budaya di masyarakat digital dalam beberapa diskusi sederhana hingga bacaan mendalam. Pergerakan antara budaya kita yang mengikuti pandemi terasa lebih instan dan berbasis dunia digital. At some point, I got tired of everything.

Hal ini bermula pada satu hari saya merasa muak dan lelah dengan pemberitaan mengenai Covid-19 dan merasakan kepanikan luar biasa karena pemberitaan yang terlalu banyak. Sebagai orang yang skeptis, saya memang mencerna secara perlahan informasi yang saya peroleh, namun dalam satu tahap saya merasa terlalu lelah dengan semuanya. Ditambah dengan badan saya yang kala itu drop dan tidak merasa informasi seperti itu dibutuhkan. …


Saya selalu suka menulis surat kepada siapapun, diri saya ataupun orang lain. Sewaktu saya masih anak-anak, saya sering menulis surat kepada saudara dan teman jauh saya. Sensasi pergi ke kantor pos dan menunggu balasan surat, tanpa disertai kemudahan untuk melacak dimana keberadaan surat saya menjadikannya lebih mendebarkan. Surat selalu menjadi hal yang personal dan sentimental bagi saya.

Jika mengamati kembali dari setiap tulisan dan tujuan saya mengikuti challenge ini adalah melihat ke dalam diri saya sendiri yang kadang jarang saya perhatikan. Berusaha melihat sisi lain dari diri saya sendiri. Saya hampir tidak percaya bagaimana satu bulan bisa mengubah diri saya menjadi hal yang jauh berbeda. …

About

Eunike

An amateur storyteller and featured enthusiast

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store